Sumber: aprayon.com

Sampah telah lama menjadi masalah serius bagi masyarakat dunia. Untuk sampah pakaian saja, secara global ada 12 ton sampah yang dibuang setiap detiknya. Mirisnya lagi, sekitar 60% dari total sampah pakaian tersebut terbuat dari bahan yang sulit terurai secara alami. Namun alih-alih memandang hal tersebut sebagai masalah, Sukanto Tanoto justru melihatnya sebagai sebuah kesempatan untuk menemukan solusi.

Grup bisnis Royal Golden Eagle (RGE) yang didirikan oleh Sukanto Tanoto memiliki dua unit usaha yang fokus mengembangkan dan memproduksi rayon viskosa, yakni Sateri dan Asia Pacific Rayon (APR). Bahan tekstil ini pun memiliki berbagai keunggulan jika dibandingkan dengan kain sintetis. Selain nyaman dan terasa sejuk saat digunakan, rayon viskosa juga lebih ramah lingkungan. Untuk mengembangkan rayon viskosa ke tingkat yang lebih tinggi inilah, RGE mengalokasikan dana investasi senilai USD 200 juta.

Rayon Viskosa, Serat Pakaian yang Ramah Lingkungan

Saat ini, sebagian besar pakaian yang beredar di pasaran terbuat dari kain sintetis. Bahan seperti nylon, polyester dan acrylic terlihat mendominasi. Padahal, kain sintetis merupakan turunan dari plastik yang sulit diurai secara alami.

Di sisi lain, angka penjualan pakaian cenderung mengalami peningkatan. Pakaian tidak lagi dipandang sebagai sebuah kebutuhan namun sudah bergeser menjadi bagian dari gaya hidup. Pergeseran seperti ini mendorong budaya konsumtif yang secara tidak langsung meningkatkan produksi sampah pakaian di seluruh dunia.

Rayon viskosa hadir sebagai solusi untuk membantu mengatasi tingginya produksi sampah pakaian. Bahan tekstil ini terbuat dari serat kayu yang lebih mudah terurai secara alami.

Namun di tangan Sateri dan Asia Pacific Rayon (APR), serat rayon dikembangkan ke tingkat yang lebih tinggi. Tidak tanggung-tanggung, grup Royal Golden Eagle (RGE) yang merupakan induk usaha Sateri dan APR rela mengalokasikan dana USD 200 juta untuk mengembangkan produknya.

Investasi USD 200 Juta Demi Industri Tekstil Berkelanjutan

Secara produk, rayon viskosa sebenarnya sudah cukup ramah lingkungan. Untuk membuat pakaian, bahan ini juga mudah dipadukan dengan bahan-bahan lain seperti katun dan polyester. Karakteristiknya yang nyaman dan sejuk juga cocok untuk membuat busana muslim sekalipun.

Meski demikian, perusahaan Sukanto Tanoto ingin mengembangkan produknya itu ke tingkat yang lebih tinggi. Bukan hanya dari segi kualitas produk namun juga meningkatkan efisiensi produksinya.

Investasi senilai USD 200 juta dimaksudkan untuk mencapai tujuan tersebut. Grup bisnis RGE akan menyalurkan dana tersebut secara berkala selama 10 tahun ke depan.

Setidaknya ada 3 hal yang ingin dikembangkan melalui investasi RGE. Ketiga hal tersebut meliputi peningkatan teknologi bersih, pengembangan produk percontohan dan pengembangan RnD (Research and Development). Untuk alokasinya sendiri, secara berturut-turut dana investasi tersebut akan dibagi dengan komposisi 70%, 20% dan 10%.

Praktek Industri Berkelanjutan

Rayon viskosa memiliki potensi besar sebagai bahan tekstil masa depan. Namun untuk mewujudkan industri tekstil yang berkelanjutan, perusahaan Sukanto Tanoto juga menerapkan praktek produksi yang ramah lingkungan. Dua unit bisnis RGE yang bergerak dalam bidang industri serat rayon yakni APR dan Sateri hanya menggunakan bahan baku yang berasal dari sumber-sumber terbarukan. Proses produksinya juga dijalankan secara efisien dengan mesin-mesin berteknologi tinggi.

Asia Pacific Rayon (APR) sangat terbuka akan rantai produksinya. Dengan memanfaatkan teknologi blockchain, salah satu unit bisnis Sukanto Tanoto tersebut menunjukkan transparansi yang jarang dijumpai dalam bisnis serupa. Melalui aplikasi “Follow Our Fibre”, publik bisa memastikan sendiri apakah APR benar-benar menerapkan operasional produksi yang berkelanjutan atau tidak.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *